default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Krisis Karakter di Era Menggilanya Gadged

Krisis Karakter di Era Menggilanya Gadged
Suara Pembaca
Elisabet Dyah Kusuma, M.Pd Dosen Universitas Doktor Nugroho Magetan
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Elisabet Dyah Kusuma, M.Pd

Dosen Universitas Doktor Nugroho Magetan

Gadget layaknya kebutuhan pokok setiap manusia, gadget seolah-olah menjadi rumput hijau yang tumbuh subur diantara ladang ilalang.

Abad 21 merupakan abad digital dimana penggunaan teknologi digital sangat menggila. Hampir setiap orang pasti menggunakan teknologi digital terutama internet dalam gadget masing-masing.

Siapa yang tidak kenal internet? Google? Apalagi beraneka macam media sosial. Teknologi menjadi sarana yang wajib digunakan terutama pada saat ini, tidak ada alasan untuk tidak tahu karena semua hal dapat dengan mudah diketahui melalui internet, namun hal inilah yang menjadi pisau bermata dua bagi kita semua karena bisa menguntungkan namun juga bisa merugikan diri kita sendiri.

Ironi memang apabila fenomena ini mewabah hingga anak-anak sekolah. Internet yang seharusnya menjadi wahana untuk belajar malah disalahgunakan oleh anak-anak. Bukan masalah salah atau benar, hanya saja diperlukan GERAKAN KEPEDULIAN BERSAMA sebagai penguatan akan karakter anak.

Banyak orang dewasa yang sebenarnya melek akan teknologi tapi seolah-olah buta akan pengaruh negatif teknologi yang digunakan oleh anak.

Sekeras apapun anak dibentengi tapi kalau lingkungan saja tidak mendukung maka menjadi kurang optimal dalam penangannya.

Hal yang nyata terjadi adalah banyak anak kecil “terkontaminasi” pengaruh internet terutama media sosial dan video/youtube. Rasa keingintahuan yang besar pada masa anak-anak mejadikan mereka rawan akan bahanya penyalahgunaan gadget. Kecanduan terhadap gadget mulai mewabah dan membuat anak menjadi krisis karakter.

Mereka tidak lagi peka terhadap lingkungan nyata namun hanya peduli pada lingkungan maya yang mereka anggap lebih menarik dan memahami diri mereka.

Sungguh miris rasanya apabila anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa yang vulgar bahkan cenderung kurang mendidik.

Rasa keingintahuannya yang besar membuat mereka perlu untuk mengaktifkan eksistensi dirinya melalui lingkungannya dengan berekspresi layaknya orang dewasa yang sebenarnya belum tepat untuk usia mereka.

Abu-abu memang kalau kita menyalahkan karena mereka hanyalah korban dari mewabahnya candu gadget. Hal yang paling dirasakan adalah rasa tolerasi dan kejujuran yang sangat berkurang dan digantikan oleh rasa keegoisan yang justru meningkat drastis.

Lalu apa yang musti dilakukan? Apakah cukup hanya membatasi mereka bermain Gadget??

Tentu setiap orang tua memiliki cara tersendiri untuk memikirkan hal ini. Namun yang harus dilakukan adalah melakukan gerakan bersama untuk membentuk karakter anak dengan mengganti penggunaaan gadget menjadi lebih ramah anak yakni mengubah web default internet menjadi kidszone maupun video zone yang tentu saja lebih ramah anak.

Jangan pernah mendiamkan anak dengan memberikan Gadget tapi berikan kepedulian dan pengertian anak apabila mereka mulai rewel.

Batasi penggunaan gadgetdengan tetap mengawasi anak untuk tidak membuka konten lain yang kurang pantas. Beri sanksi tegas agar anak belajar mengendalikan diri.

Ajak anak lebih mengenal dunia nyata dan bukan asik dengan dunia maya saja. Jelaskan mengapa mereka tidak boleh fokus gadget, jangan hanya melarang tanpa penjelasan karena hanya akan membuat anak bingung dan semakin melanggar larangan kita.

Perhatikan anak lebih dalam, sentuh hati mereka dengan memberikan teladan positif.

Gadget memang penting tapi sudah menjadi kewajiban kita dengan berusaha memanage penggunaannya dengan baik terutama bagi perkembangan anak-anak yang sangat riskan terhadap candu gadget.

Mari kita mulai dari sekarang, membantu anak leapas dari candu gadget dengan memulainya dari teladan diri kita sendiri untuk peka terhadap lingkungan nyata di sekitar kita yang membutuhkan sentuhan perhatian kita secara langsung.

So, think positively with the best mind for our meaningfull life


Kontributor : Suara Pembaca
Editor : Imam Hairon
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar